BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dengan semakin
berkurangnya energi fosil dan meningkatnya harga sumber bahan bakar dan sumber energi
yang lain, maka orang mulai berusaha untuk mencari sumber energi pengganti, dan
hal ini jatuh pada energi panas bumi yang saat ini mulai dikembangkan
diberbagai negara di dunia.
Penerapan
energi panas bumi dalam operasi pemboran dimaksudkan agar dapat memanfaatkan
energi tersebut dan diproduksi atau dikembangkan dimana energi panas bumi
tersebut dapat menggantikan energi minyak dan gas yang semakin lama semakin
mengurang energinya. Dan juga energi panas bumi ini bertujuan untuk membantu
kebutuhan manusia yakni sebagai pembangkit listrik.
Mengingat
energi panas bumi ini baru dikembangkan maka, hanya beberapa rig pemboran saja
yang baru melakukan proses ekspolorasi energi panas bumi ini, khususnya RIG
N110 M1/18. Dan rig ini dibawa naungan perusahaan PT. PDSI (Pertamina Drilling
Services Indonesia) dan perusahaan yang mempunyai lahan adalah PT. PGE
(Pertamina Geothermal Energy).
Berdasarkan
hal diatas maka ada baiknya kita mengenal dan mempelajari lebih lanjut mengenai
proses pemboran Geothermal terutama
mengenai evaluasi terhadap instalasi BOP di pemboran tersebut.
1.2 Batasan Masalah
Pada penelitian tugas akhir ini
penulis membatasi ruang lingkup permasalahan pada seputar evaluasi instalasi blow out preventer di pemboran geothermal, khususnya di lokasi sumur
LMB X, Rig N110 M1/18 Pt PDSI Onshore Drilling Area Sumbagsel.
1.3 Tujuan
Tujuan
dari kegiatan penelitian tugas akhir ini adalah agar mahasiswa dapat :
1. Memahami
dan mampu mengetahui evaluasi instalasi blow
out preventer di sumur LMB X di pemboran geothermal.
2. Untuk
mengetahui kendala dan permasalahan pada proses instalasi dan pemasangan
rangkaian BOP.
3. Untuk
mengetahui tahapan dalam kegiatan penguji BOP, setelah dilakukan proses
instalasi.
4. Untuk
mengetahui beberapa bertimngan yang perlu dilakukan sebelum proses instalasi
BOP.
1.4 Manfaat
Manfaat
dari penulisan tugas akhir ini adalah sebagai salah satu syarat untuk
mendapatkan Gelar Diploma III pada program studi teknik ekspolarasi produksi
migas politeknik akamigas Palembang dan supaya mahasiswa mampu menjelaskan
instalasi blow put preventer di sumur
LMB X.
1.5 Sistematika Penulisan
1. BAB I Pendahuluan.
Merupakan
bab pendahuluan yang berisikan mengenai latar belakang, batasan masalah, tujuan
dan manfaat dan sistematika penulisan.
2. BAB II
Dasar Teori.
Merupakan
bab yang berisikan mengenai teori-teori dasar tentang devinisi, rangkaian dan
peralatan dari BOP.
3. BAB III
Metodologi Penelitian.
Merupakan
bab yang berisikan waktu dan tempat penelitian, metode penelitian, tahap
pengolahan data, tahap pembahasan dan identifikasi masalah.
4. BAB IV
Hasil dan Pembahasan
Merangkan
penyebab terjadinya kick, tanda-tanda
kick, blow out preventer dan rangkaian BOP stack serta kendala yang umum pada saat pemasangan BOP juga
menerangkan penguji BOP.
5. BAB V
Penutup
Merupakan
bab penutup yang berisikan kesimpulan dari dan saran yang diberikan penulis.
BAB II
DASAR TEORI
Pengeboran migas dan panas bumi
memerlukan perhatian yang besar untuk menjamin keberhasilan dalam pengeboran
yang dilakukan, mulai dari biaya yang besar, sumber daya menusia yang handal,
dan resiko yang besar. Adapun salah satu resiko yang harus siap dihadapi saat melakukan
pengeboran yaitu kick.
Kick
adalah masuknya cairan formasi ( gas, minyak atau air asin ) kedalam lobang bor
yang ditandai dengan meningkatnya pit.
Tanpa tindakan yang tepat kondisi ini dapat mengakibatkan blow out. Blow out adalah sebuah aliran yang tidak terkendali atau
fluida dari sumur bora tau tekanan bawah permukaan yang lebih rendah (API RP 53
1997).
2.1 Penyebab terjadinya
kick
Ada beberapa perihal yang
menyebabkan terjadinya kick diantaranya adalah :
1. Berat
jenis lumpur tidak memadai.
Berat jenis lumpur turun dikarenakan bercampurnya
fluida formasi dengan lumpur bor, fluida formasi yang cepat menurunkan berat
jenis lumpur adalah gas.
2. Kehilangan
sirkulasi.
Tinggi kolam dapat turn dikarenakan lumpur yang
masuk kedalam formasi (lost circulation),
sehingga hal ini menyebabkan terjadinya kehilangan sirkulasi, maka berakibat
berkurangnya volume lumpur juga dan akhirnya nengurangi tekanan hodrostatik
lumpur itu sendiri, maka cairan formasi akan mendesak lumpur dalam sumur.
3. Kandungan
gas dalam lumpur.
Formasi gas mengandung gas di dalam pori-pori
batuanya, waktu menembus formasi gas. Cutting yang dihasilkan akan mengandung
gas. Gas keluar dari cutting dan masuk ke dalam lumpur, semakin lama gas makin
banyak sehingga akan menurunkan berat jenis lumpur.
2.2 Tanda – tanda kick
:
Sebelum terjadinya kick
ada beberapa tanda yang bisa diketahui diantaranya sebagai berikut :
1. Increase in pit volume.
2. Cutting yang
tersaring di shale berukuran besar.
3. Hadirnya
gelembung gas pada lumpur.
4. Tekanan
pompa turun.
5. Stroke
pompa naik.
6. Berat
jenis lumpur turun.
7. Kadar
garam naik.
8. Laju
penembusan tiba- tiba naik (drilling break).
Blow out
merupakan suatu kejadian yang dapat diperkirakan dengan pasti sangat
membahayakan jiwa para pekerja penboran. Karena bisa merusak lingkungan dan
menghancurkan rig. Agar blow out bisa
diatasi maka diperlukan peralatan yang menahan jika terjadi blow out. Alat tersebut adalah blow out preventer.
2.3 Blow Out Preventer
Blow
out preventer adalah peralatan yang diletakan
tepat di atas permukaan sumur yang digunakan untuk menutup sumur apa bila
terjadi kenaikan tekanan dasar sumur yang tiba-tiba dan berbahaya selama dalam
operasi pemboran. Walaupun blow out
didahului dengan kick, dan kick dideteksi (ada indikasinya) tetapi
jika alat pengcegah smburan liar tidak lengkap dan tidak berfungsi dengan baik,
maka proses mencegah (manutup BOP) kick
atau semburan liar akan gagal.
BOP sangat diperlukan dalam operasi
pemboran, sebagai pengaman apabila sewaktu – waktu terjadi kick. Apabila terjadi kick
maka toolpusher dengan cepat menutup
BOP dengan menghidupkan control pada menghidupkan control pada accumulator yang terletak pada lantai
bor.
Pada perencanaan BOP stack, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
antara lain adalah sebagai berikut :
1. Rated working pressure.
2. Pemilihan
dan pengaturan komponen.
3. Variasi
penempatan.
4. Diverter system.
5. Ketinggian
BOP Stack.
Prosedur yang lazim digunakan dalam memperkirakan
besarnya tekanan yang terjadi pada penboran sumur dangkal adalah dengan serta
kedalam serta kedalam sumur penboran. Karena untuk yang dalam memerlukan
perhitungan yang lebih kompleks.
BOP sistem
sangat berguna untuk mencegah terjadinya suatu aliran fluida formasi yang tidak
terkendali sampai ke permukaan, yaitu dengan menutup lubang bor ketika terjadi
kick. Faktor utama yng harus diperhatikan adalah tentang keadaan lumpur bor.
Lumpur bor harus dikontrol sehingga kita dapat mengetahui kalau terjadi kick.
Sistem BOP ini tediri dari dua sub-komponen utama,
yaitu BOP stack terdiri dari annular preventer, ram preventer, pipe ram,
blind ram, shear ram drilling ram dan casing head.
2.4 Rangkain BOP Stack
Rangkaian BOP stack ditempatkan pada kepala casing
atau kepala sumur langsung dibawah rotary
table pada lantai bor. Rangkaian BOP stack
terdiri dari peralatan sebagai berikut :
1.
Annular
Preventer.
Ditempat paling atas dari susunan BOP stack. Annular preventer berisi rubber
packing element yang dapat menutup lubang annulus baik lubang dalam keadaan kosong ataupun ada rangkaian pipa
bor.
GAMBAR
2.1 Annular preventer
2. Ram Preventer.
Ram preventer hanya dapat menutup
lubang annulus untuk ukuran pipa tertentu, atau pada keadaan tidak ada pipa bor
dalam lubang.
Jenis ram preventer yang biasanya
digunakan antara lain adalah :
a. Pipe
ram.
Pipe ram
digunakan untuk menutup lubang bor pada waktu rangkaian pipa bor berada pada
lubang bor. Pipe ram mempunyai elemen penutup yang terbuat dari karet, yang
dapat menutup ruang annulus disekeliling rangkaian yang terbentuk pipa, elemen
penutupnya harus berukuran sama dengan outside diameter dari pipa yang ada
didalam pipe ram tersebut.
GAMBAR
2.1 pipe ram
b. Blind or
Black Rams
Peralatan
tersebut digunakan untuk menutup lubang bor pada waktu rangkaian pipa tidak
berada pada lubang bor.
GAMBAR
2.3 blind ram
c. Shear
Rams
Shear
rams adalah ram preventer yang mempunyai elemen penutup yang tajam, yang dapat
digunakan utuk memotong drill pipe dan seal sehingga lubang bor kosong (open
hole), digunakan terutama pada off shore floating rigs.
GAMBAR
2.4 sheare rum
3. Drilling Spools.
Drilling spools adalah terletak
diantara preventer. Drilling spools berfungsi sebagai tempat pemasangan choke
line (yang mengsirkulasikan kick keluar dari lubang bor) dan kill line (yang
memompakan lumpur berat).
GAMBAR 2.5 drilling
spools
4. Casing Head ( Weel Head )
Merupakan alat tambahan pada bagian
atas casing yang berfungsi sebagai pondasi BOP stack.
GAMBAR 2.5 casing
head
5. Over Flow.
Adalah alat yang berguna untuk
mengalirkan cairan tersebut akan di alirkan ke flow line.
6. Flow Line
Adalah Line yang berguna untuk
mengalirkan cairan yang akan ditampung ke Tangki dan selanjutnya akan di
sirkulasikan lagi kedalam sumur.
7. Diverter.
Adalah sebagai alat penutup yang
digunakan pertama kali apabila terjadi semburan. Diverter dapat ditutup setelah
ball valve dibuka untuk dialirkan ke separator atau ke flare pit.
8. Mud Croses.
Adalah peralatan tempat untuk
sambungan kill line, HCR 2” dan ball valve yang dihubungkan ke BPM.
9. Bottom Flange.
Adalah tempat dudukan atau pondasi
BOP diatas casing agar BOP bisa dirangkai dan agar tidak bergerak pemasangan
bottom flange ini harus benar-benar diperhatikan saat pengelasan karena bisa
mengalami kebocoran dan tidak kuat menopang bagian BOP yang lainnya, pengelasan
harus dilakukan berulang-ulang kali agar kuat menempel pada casing.
10. Hydraulic Control Rated.
Adalah sebagai sambungan untuk kill
line. Ukuran yang digunakan pada HCR ini adalah ada dua yaitu 2” dan 4”
11. Rotating Head.
Adalah peralatan yang digunakan
supaya pipa bisa bergerak secara fleksibel pada tekanan yang rendah.
12. Banjo Box.
Adalah peralatan tambahan sebagai
alat untuk mengalirkan lumpur pemboran ke mud gas separator.
Susunan BOP yang lebih populer
disebut BOP stack adalah seperangkat peralatan yang dipasang diatas Casing Head
yang berfungsi untuk menutup sumur untuk menahan aliran fluida dari sumur.
Inside dianeter dari BOP harus sama atay lebih besar dari outside diameter
casing, agar semua peralatan yang dimasukan dapat masuk.
2.5 rangkaian dan susunan BOP
BOP ini
mempunyai lubang yang besar agar semua peralatan pemboran bisa masuk kedalam
sumur. Rating tekanan yang tinggi
tahan terhadap tekanan yang tinggi berguna untuk mengatasi tekanan dari bawah
permukaan dan dapat di oprasikan secara cepat.
Rangkaian
BOP di susun dalam berbagai bentuk. Menurut API RP. 53 mempunyai susunan BOP.
BOP stack di susun berdasarkan trayek sumur dengan keterangan sebagai berikut:
A = annular type blow out preventer
G= rotating head
R= single ram preventer dengan satu set ram apakah blind ram atau pipe ram
Rd = double ram type preventer dengan dua set ram
Rt = triple ram type preventer dengan tiga set ram
S =
spool yang di hubungkan dengan choke dan killing line
M = 1000
psi rate dari tekanan kerja (working pressure)
Komponen-
komponen di susun dari bawah keatas dari well head yang permanen atau dari
dasar susunan BOP. Contoh susunan BOP bisa secara lengkap di tunjukan sebagai
berikut:
5M- 71/16- RSRDA
Maksudnya
adalah BOP ini mempunyai tekanan kerja 5000 Psi, ukuran lubang adalah 71/16”
dan susunan dari bawah keatas adalah:
1. Single
ram preventer (R)
2. Drilling
spool (S)
3. Double
ram preventer (Rd)
4. Annular
type blow out preventer (A)
Tabel
2.1 rated working pressure
2K
|
2.000 psi
|
3K
|
3.000 psi
|
5K
|
5.000 psi
|
10K
|
10.000 psi
|
15K
|
15.000 psi
|
20K
|
20.000 psi
|
Beberapa
hal yang harus perlu menjadi perhatian pada BOP adalah sebagai berikut:
1. Susunan
BOP harus di dasarkan oleh tingkat kick yang di perkirakan akan terjadi
2. Ram yang
semakin banyak akan membuat susunan BOP semakin berat dan semakin mahal. Ram
yang semakin sedikit akan membuat susunan BOP atau tingkat keamanannya makin
berkurang.
BOP
mempunyai fungsi utama dan fungsi penunjang. Fungsi utama dari BOP adalah untuk
menanggulangi kick, di antaranya sebagai berikut:
1. Menutup
bagian atas dari lubang sumur atau bagian yang terjadi kick.
2. Mengontrol
fluida yang keluar dari dalam lubang sumur dalam menanggulangi kick.
3. Sebagai
tempat untuk memasukan lumpur kedalam lubang untuk menanggulangi kick.
Di
samping fungsi utama di atas, BOP juga berfungsi untuk:
1. Reverse
circulation
2. Menutup
annulus saat operasi squeeze comenting
3. Menutup
annulus saat operasi leak off test
4. Menutup
sumur saat operasi casing
5. Menutup
sumur saat operasi flow fert
Pertimbangan-
pertimbangan dalam pemilihan BOP adalah:
1. Ukuran
Ukuran
BOP harus sesuai dengan diameter flange. Diameter dalam diri BOP harus sama
atau lebih besar dari diameter dalam casing. Sehingga peralatan- peralatan yang
akan di pakai dapat masuk melalui BOP.
2. Tekanan
kerja (working pressure)
Tekanan
kerja dari BOP minimum harus sama dengan tekanan sumur yang akan di hadapi.
3. Dimensi
Dimensi
dari BOP terdiri dari panjang, lebar, tinggi. Dalam menentukan dimensi dari BOP
harus mempertimbangkan:
a) Tinggi
substructure.
b) Tinggi
well head yang di pasang
c) Lebar
substructure rig yang akan di gunakan.
2.6 kendala
yang umum pada saat pemasangan BOP
Saat pemasangan semua peralatan yang
ada di BOP itu harus benar- benar di perhatikan dan pada saat pemasangan BOP
juga ada kendala- kendala yang sering terjadi di antaranya:
1. Luas
ruang kerja pemasangan BOP kurang mencukupi atau sempit.
2. Posisi
rangkaian BOP.
Posisi
botton flange yang tidak sempurna atau miring pada casing, botton flange yang
miring bisa di lihat dengan bantuan alat water pass. Posisi sangat penting
karena jika posisi botton flange miring maka akan mempengaruhi bagian BOP yang
lain. Jika posisi botton flange sudah tepat maka akan di lakukan pengelasan
untuk melekatkan dasar casing.
3. Pengelasan
bagian BOP yang tidak sempurna.
Pengelasan
yang tidak sempurna akan menyebabkan kebocoran pada BOP dan membuat kinerja
dari BOP tidak bekerja dengan maksimal.
Agar
peralatan- peralatan pencegahan semburan liar dapat dalam kondisi yang selalu
baik dan siap pakai, maka harus di lakukan:
1. BOP
harus selalu di periksa atau di test
2. Tekanan
accumulator harus selalu di periksa
2.7
pengujian
BOP
sebelum
BOP siap untuk di gunakan ada beberapa proses yang harus di lakukan, salah
satunya adalah dengan cara melakukan pengujian. Berikut ini adalah cara
pengujiannya.
2.7.1
pengujian
annular
1. siapkan
DP 2 joint atau 1 stand
2. sambungkan
DP dengan top drive, posisikan DP di dalam BOP dengan posisi toll joint 1 meter
di atas rotary table ( buka semua ) . pipe ram ( terbuka ), blind ram (
tertutup ), anullar ( tertutup ).
3. Posisi
DP di atas blind ram, posisi top drive terbuka, HCR 4” dan HCR 2” tertutup.
4. Mulai di
pompakan dengan tekanan rendah 500 Psi kurang lebih 5 menit ( tahan ), periksa
bila ada kebocoran cairan akan keluar, bila ada kebocoran BOP akan di periksa
dan cairan akan di buang terlebih dahulu.
5. Bila BOP
sudah dalam kondisi bagus atau tidak bocor lagi, BOP akan di lakukan pengujian
lagi sampai tidak ada kebocoran lagi.
2.7.3 Pengujian Blind Ram
1. posisi annular
terbuka, posisi pipe ram terbuka dan string diangkat di atas permukaan
2. posisi blind ram
tertutup, HCR 4 “ tertutup valve top
drive tertutup HCR 2” terbuka.
3. pompakan slow pump 400
– 500 psi tahan 5 sampai dengan 10 menit.
4. periksa di BOP apqabila ada kebocoran tekanan atau cairan
dibuang dan segera di perbaiki di bagian bocor.
5. bila sudah dalam keadaan baikpengujian akan dilakukan kembali
sampai tidak ada kebocoran.
2.8 Langkah-langkah penutupan sumur saat
terjadi kick yang di sertai H2S, yang ditandai lampu alarm menyala (5 ppm) dan
bunyi alarm (10 ppm) dari H2S unit.
2.8.1 Saat Sedang Bocor (Kondisi) aliran balik
normal
1. Angkat string sampai
posisi tool join di atas rotary table.
2. Stop string.
3. Stop pompa.
4. Tutup BOP.
5. Gunkaan (breating
aparatus/skapak).
6. Hidupkan bug blower di
rig foor, shale shaker dan cellar.
7. Periksa apakah ada kebocoran sumur.
8. Tunggu instruksi selanjutnya dari company man dan rig superitendent.
2.8.2 Saat Bor Formasi (Kondisi Loss)
1. pompa dan angin selalu dalam keadaan jalan.
2. gunakan work unit (breating aparatus/skapak).
3. angkat string sampai
posisi tool join diatas rotary table.
4. tutup BOP.
5. hidupkan bug blower di
rig floor, shale shaker dan cellar.
6. periksa tekanan sumur dan periksa apakah ada kebocorann.
7. tunggu instruksi selanjutnya dari company man dan rig
superintendent.
2.8.4 Saat kondisi cabut/masuk String (Lubang
Tidak Loss)
1. stop kegiatan cabut/masuk rangkaian.
2. gunakan work unit (breating aparatus/skapak) untuk semua
personil yang berada di rig floor dan derrick.
3. posisikan tool joint drill pipe diatas rotarytable.
4. tutip BOP, koneksi rangakaian ke top drive.
5. hidupkan bug blower di rig floor, shale shaker dan cellar.
6. periksa apakah ada kebocoran sumur.
7. Tunggu instruksi selanjutnya dari company man dan rig superintendent.
7. Tunggu instruksi selanjutnya dari company man dan rig superintendent.
2.9 Accumulator
Semua peralatan
pencegah semburan liar digerakkan untuk
membuka dan menutup fluida hydraulic yang disimpan di dalam accumulator unit
dalam kondisi bvertekanan. Accumulator mini berupa tabung-tabung baja yang
berisi nitrogen, karena nitrogen merupakan gas yang bisa dimanfaatkan. Dari
accumulator unit keperalatan-peralatan pencegah semburan liar fluida hydraulic
disalurkan dalam satu saluran yang tahan tekanan tinggi. Fluida hydraulic akan
bekerja menggerakakan preventer jika control valve dijalankan oleh toolpusher
dan driller.
Biasanya
ditempatkan pada jarak sekitar 100 meter dari rig. Accumulator bekerja pada BOP
stack dengan “high pressure hydraulic” (saluran hidrolik bertekan tinggi. Pada
saat terjadi kick toolpusher dapat dengan cepat menutup BOP dengan
m,engoperasikan kontrol pada accumulator atau pada remote panel yang terletak
pada lantai bor.
Unit accumulator
dihidupkan poada keadaaan darurat yaitu untuk menutup BOP stack. Unit ini dapat
dioperasikas dari remote panel yang terletak pada lantai bor atau dari
accumulator panel.
GAMABAR 2.7 accumulator
2.10 Sistem Penunjang (Supporting System)
Peralatan penunjang yang terpasang
ranglkaian peralatan sistem pencegahan semburan liar (BOP system) meliputi choke manifold dan kill line. Selain
p[eralatan-peralatan diatas terdapat juga back pressure manifold (BPM) yang
berfungsi untuk mengatur aliran dari annulus menuju :
A.
Mud gas separator
B.
Ground pit atau mun pit.
C.
Flare.
D.
Test unit.
1. Choke Manifold
Choke manifold merupajkan suatu kumpulan fitting dengan beberapa outlet
yang dikendalaikan secara manual dan atau otomatis. Bekerja pada BOP stack
dengan high presure line disebut choke line.
Bila dihidupkan choke manifold
membantu menjaga back presure dalam lubang bor untuk mencegah terjadinya
gangguan fluida formasi. Lumpur bor dapat dialirkan dari BOP stack kesejumlah
valve (yang membatasi aliran dan langsung ke reserve pits), mud gas seperator
atau mud conditioning area back pressure di jaga sampai lubang bor dapat
dikontrol kembali.
2. Kill Line
Kill line bekerja pada bop stack
biasnya berlangsung dengan choke manifold dan choke line. Lumpur berat dipompakan
melaui kill line kedalam lumpur bor sampai tekanan hidrolistik lumpur dapat
mengimbangi tekanan formasi.74.
GAMBAR 2.9 kill line
BAB III
METODO.LOGI PENELITIAN
3.1
Waktu Dan Tempat Penelitian
Pelaksanaan penelitian tugas akhir
ini dilaksanakan mulai pada tanggal 19 maret – 3 aplril 2014 belokasi di sumur
LMB X lapangan PT. Pertamina goethermal energy (PGE) yang dilaksanakan oleh Rig
n 110 M1/18 PT. Pertamina driling service indonesia (PDSI).
3.2 Metode
Penelitian
Di dalam penelitiah tugas akhir ini
poengumpulan data-data dan pemahan yang berhubungan dengan penulisan tugas
akhir penulis menggunakasn beberapa metode di antaranya:
1. Melakukan
Studi Literatur
Tahap
studi yang dilakukan dengan cara mengumpulkan sumber-sumber informasi yang
berkaitan dengan kegiatan penelitian yang berasal dari referensi yang
berhubungan dengan masalah yang akan dihdapai sehingga data yang ada dapat
mempertegas data dan untuk keperli\uasn analisa yang diperlukan.
2. Penelitian
Lapangan
Penelitian
lapangan ini merupakan untuk poengambilan data yang dilakuan secara langsung,
yang dilakukan oleh penulis dengan mendatangi lokasi pengambilan data tersebut,
adapun lokasi yang di datangi yaitu sumur LMB X pada Rig N110 M1/18 PT.
Pertamina drling services indonesia dan lapangan kerja PT. Pertamina Geothermal
Energy.
3. Wawancara
Wawancara
merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan mengadakan komunikasi yang
dilakukan secara langsung dengan pembimbing lapangan dan semua para pegawai PT.
Pertamina Driling Services indonesia khususnya dengan driller, tool pusher, company man dan service company yang ada dan terlihat juga terlibat dalam proses
pemboran di Rig N110 m1/18.
4. Pengumpulan
Data Tertulis
Pengumpulan
data tertulis dilakukan dengan cara meminta soft
copy dan hard copy kepada pembimbing, administrastion, dan service company yang terlibat dalam
proses pembotran atau yang berada dilokasi tersebut.
5. Kertangka
Pikir Penelitian
Kerangka
pikir penelitian dilakukan dengan cara melakukan observasi lapangan selama
durasi kegiatan lapangan yang berlangsung dengan cara melihat, mengamati,
meneliti dan memahami sistem kerja pemboran gothermal,
khusunya evalusi terhadap instalasi preventer
di sumur LMB X di lokasi pemboran yang menyipulak hasil yang dapat digunakan
sebagai data lapangan dalam penyusunan tugas akhir ini.
3.3 Tahap Pengelolahan Data
Dari survey yang dlakukan secara
langsumg dilapangan, data atau pengetahuan yang bisa didapat yaitu adanya beberapa
maslaha di sumur yang sangat penting untuk dipahami, diketahui bagaimana
cara-cara pengulangannya. Pada tahapan ini data-data yang telah dikumpulkan dari lapangan
sebagaimana telah dijelaskan dan dibahas meliputi instalasi blow
out preventer di sumur LMB X pemboran geothelmal terasebut.
3.4
Tahap Pembahasan
Metodologi yang diguanakan dalam
tahap pembahasan laporan tugas akhir ini adalah metode asnalisis pustaka
terkait tentang instalasi blow out
preventer pada RIG Pemboran Geothermal di Sumur LMB X. Analisis pustaka
yang di sampaiakan adalah mengenai instalasi blow out preventer di Sumur LMB X, contohnya ; Susunan Blow Out Preventer di setiap treyek dan
fungsi perlaatan dibagian blow out
preventer.
3.5 Indentifikasi Masalah
Berdasarkan hasil penelitian di Rig N110 M1/18
pada pemboran geothermal. Rangakaian blow out preventer seringa mengalami permasalahan. Baik itu
maslalah yang bisa diatasi dengan cepat
dan permasalahan yang cukup berat. Adapaun permasalahan yang tidak terlalau
berat yaitu permasalahan BOP. Agar semua permasalahan tersebut bisa diatasi BOP akan dilakukan pengujian agar BOP bisa
bekerja dengan sangat baik.
|
|||||
![]() |
|||||
![]() |
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
![]() |
GAMBAR
3.1
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pemboran yang dilakukan pada sumur
lmb x ini merupakan salah satu sumur
yang dikerjakan oleh PT. Pertamina Drililling Services Indonesia yang
mengguanakan RIG N 110 M1/18 di daerah lumut balai yang merupakan salah satu
lapangan untuk memproduksikan energi panas bumi. Pemboran pada sumur LMB X ini
tersiri dikerjakan dengan mengguanakn metode directional drilling dengan alasan
untuk memeperbanyak produksi panas bumi selain daripada alasan adanya kubah
garam, geologi dan topografi, dimana target kedalaman yang akan dilakukan pada
sumur LMB X ini adalah 2700 m.
Dimana dalam pelaksanaan kegiatan
pemboran terseut, sumur LBM X ini menggunakan BOP untuk mencegah terjadinya
semburan liat dari dalam sumur tersebut. BOP yang digunakan pada sumur tersebut
mempunyai rangkaian dan kapasitas yang berbeda. Pemboran ini ditargetkan
berlangsung selama 40 hari, sebelum dan sesudah melakukan instalasi BOP.
Berikut merupakan kedalaman, ukuran dan besarnya tekanan dari masing-masing rangakaian BOP
yang disusun dalam setiap treyek.
Tabel 4.1 kedalaman, ukuran dan tekanan
BOP dfi setiap treyek
Kedalaman
(Meter)
|
BOP
|
Ukuran
(Inchi)
|
Tekanan
(Psi)
|
33 -m 400
|
Divermeter
|
29
![]() |
500 Psi
|
400- 1250
|
BOP
|
21
![]() |
2000 Psi
|
1250 -2700
|
BOP
|
13
![]() |
5000 Psi
|
4.1
Instalasi dan Rangakaian BOP
Kegiatan instalasi Bop pada sumur pe,mboran lmb x ini,
mengguanakn tiga treyek Atau susunan BOP yang berbeda antara lain:
4.1.1
Instalasi pada treyek pertama
Blow out preventer di
treyek perytama ini tidak terlalu banyak mengguanakan rangakaian dalam artian
kegiatan pengeboran awal.
GAMBAR 4.1 diverter
1.
Over
flow, sebagai pengalir lumpur ke flow
line.
2. Flow line, sebagai penghubung antara over flow dan shale shaker.
3. Diverter, sebagai alat pertama kali
digunakan untuk menutup sumur.
4. Mud crose, sebagai sambungan kill line, HCR 2’’ dan ball valve yang dihubungkan ke BPM.
5. Bottom flange, sebagai dudukan rangakaian
BOP.
6. Kill line, sebagai alat untuk
mengalirkan lumpur kedalam sumur.
7. HCR, sebagai sambungan kill line.
Pada
operasi pemboran rangakaian dario posisi bagian-bagian dari ragkaian diverter
ini hanya sesuai dengan kebutuhan dan sesuai permintaan dari company man. Hal
ini disebabakan oleh keterbatasan alat yang ada dilokasi. Berdasaekan acuan
yang diterapkan oleh dari API RP 53, susunan rangakaian BOP pada treyek pertama
dengan menggunakan BOP 29
’’ adalah sebagai berkurt:

500 - 29
’’ – SA

Tekanan pada BOP
500 psi ukuran BOP yang digunakan 29
’’ dan rangkaaiannya spool
dan annular.

4.1.2
Instalasi BOP pada treyek kedua (21
’’)

Blow
out preventer pada
treyek kedua ini mempunyai rangkaian dan juga menggunakan banyak rangakaian
karena pengeboran pada treyek ini bukan lagi merupakan pengeboran dangakal atau
pengeboran awal. Tapi merupakan kedalam lebih dari 400 m.
GAMBAR
4.1 Bop
Keterangan:
1. Rotating head, sebagai penahan aliran
fluida sekaligus agar bisa bergerak secara fleksibel pada tekanan yang rendah.
2. Annular, sebagai penutup sumur.
3.
Bonjo
box,
sebagai alat untuk mensirkulasikan air drilling.
4. Pipe rum, digunakan untuk menutup luang
bor pada waktu rangkaian pipa bor berada pada lubang bor.
5. Blind ram, Dugunakan untuk menutup
lubang bor pada waktu rangkaian pipa bor tidak berada pada lubang bor.
6. HCR 4’’, untuik sdambungan ke BPM.
7. Drilling spool,
berfungsi sebagai tempat pemasangan choke
line (yang mensirkulasikan kick keluar
dari lubang bor) dan kill line (yang
memompakan lumpur berat).
8. Injector, tempat samungan peralatan.
9. Battom flange, sebagai
dudukan rangkaian BOP.
10. Kill line, sebagai alat untuk
mengalirkan lumpur berat kedalam sumur.
11. HCR 2’’, sebagai sambungan kill line.
Posisi
bagian-bagian dari rangakaian diverter ini hanya sesuai dengan kebutuhan dan
sesuai permintaan dari company man. Rangkaian BOP pada treyek kedua menggunakan
BOP 21
’’ menurut API adalah sebagai berikut:

2M
- 21
’’ – SRRSAG

Tekanan pada BOP 2000 psi dan ukuran BOP yang
digunkaan 21
’’ dan rangkaian spool, ram,
tain spool dan annular serta rottating head.

4.1.3 Instalasi pada treyek ke tiga (13
’’)

Pada treyek
pemboran ini, kedalamannya antara 1250 sampai dengan kedalam 1700, merupakan
pengeboran dalam. Dimana susunan dari rangkaian BOPnya seperti pada gambar
berikut:
GAMBAR
4.5 Bop
Keterangan:
1. Rotating head, sebagai penahan aliran
fluida sekaligus agar bisa bergerak secara fleksibel pada tekanan yang rendah.
2. Annular, sebagai penutup sumur.
3. Bonjo box, sebagai alat untuk
mensirkulasikan air drilling.
4. Pipe rum, digunakan untuk menutup
luang bor pada waktu rangkaian pipa bor berada pada lubang bor.
5. Blind ram, Dugunakan untuk menutup
lubang bor pada waktu rangkaian pipa bor tidak berada pada lubang bor.
6. Drilling spool,
berfungsi sebagai tempat pemasangan choke
line (yang mensirkulasikan kick keluar
dari lubang bor) dan kill line (yang
memompakan lumpur berat).
7. Master valve, sebagai penutup sumur.
8. Battom flange, sebagai
dudukan rangkaian BOP.
4.2
Hasil Evaluasi Instalasi BOP
Dari instalasi BOP yang digunakan pada setiap treyek yang
telah di evaluasi berdasaekan standar yang digunakan maka hasil evaluasi yang
didapatkan adalah sebagai berikut:
4.2.1
Evaluasi pertimbangan pada BOP yang digunakan
BOP yang digunakan di sumur LMB X
ini sudah dengan standar-standar umum yang ditentukan yang meliputi:
1. Ukuran
Ukuran
BOP yang digunakan sudah sesuai pada setiap treyek peboran :
a. Diverter
ukuran 29
’’ treyek bit 26’’ casing 20’’

b. BOP ukuran 21
’’ treyek bit 17
’’ casing 13
’’



c. BOP ukuran 13
’’treyek bit 12
‘’ casing 10
’’



2. Tekanan
Besarnya
tekanan kerja BOP setiap kedalaman diperkirakan semakin dalam akan semakin
besar tekanan yang berada di dalam sumur :
a. Diverter
ukuran 29
’’ memiliki kemampuan menahan tekanan maksimum sebesar 500 Psi dan
digunakan dari kesalah 33 m sampai kedalaman 400 m.

b. BOP ukuran 21
’’ memiliki kemampuan menahan tekanan maksimum sebesar 2000 Psi dan
digunakan dari kedalaman 400 m samapai kedalaman 1250 m.

c. BOP ukuran 13
’’ memiliki kemampuan menahan tekanan maksimum sebesar 5000 Psi dan
digunakan dari kedalaman 1250 m sampai kedalaman 2700 m.

3. Dimensi
Dimensi
yang ada pada BOP sudah sesuai. Karena panjang, lebar dan tinggi sudah sesuai
dengan pertimbangan tinggi dan lebar subtructure,
tinggi well head yang dipasang dan
lebar substructure yang digunakan.
a. Tinggi substruture 10,5 m, sedangkan tinggi
BOP ukuran 21
’’ adalah 4,63 m.dan tinggi casing adalah 1,75 m
sehingga tinggi sebenarnya dari BOP ukuran 21
’’ dengan casingnya adalah
6.38 m.


b. Tinggi substructure 10,5 m sedangkan tinggi BOP
ukuran 13% adalah 6,65 m dan tinggi casing
head adalah 1,14 m. Sehingga diperoleh tinggi sebenarnya dari BOP ukuran 21
’’ dengan casingnya adalah 7,79 m.

4.2.2 Evaluasi kendala pada saat pemasangan BOP
Kendala
umum yang sering dihadapai pada pemasngan BOP sebagaimana diuraikan pada bab sebelumnya tidak ditemukan
pada rig ini. Karena telah terpenuhinya beberapa kondisi diantaranya :
1. Tempat
yang luas atau ruang yang cukup dibawah substructure.
Pada rig
ini tempat untuk meletakkan BOP sangat luas atau sudah memadai sehingga
memudahkan para pekerja untuk melakukam pemasangan BOP dan pengecekkan BOP
debnngan baik dan benar.
2. Posisi
rangkaian BOP tegak lurus.
Posisi
rangkaian BOP di atas treyek sudah baik karena tidak ada bagian BOP yang miring
karena bisa mengganggu keseimbangan dan keamanan BOP yang dipasang.
3. Pengelasan
dan pengencangan bagian BOP.
Penggelasan
dan pengencangan semua bagioan BOP di setiap treyek sudah baik karena tidak ada
kebocoran yang terjadi pada BOP setelah dilkukam pengujian terhadap BOP yang
dipasang.
4.3 Kalkulasi perhitungan volume oli untuk
menutup rangkaian BOP
Accumulator,
yang di gunakan pada pemboran ini mempunyai
initial pressure 100 psi, system pressure 3000 psi dan final pressure
1100 psi. Pada accumulator ini mempunyai 20 botol dan setiap botol mempunyai
kapasitas sebanyak 11 galon, jasi untuk menghitung beberapa galon yang di
butuhkan untuk menutup rangkaian BOP bisda menggunakan rums sebagai berikut:
Vd =
–
) Vb



Keterangan :
Ppc : tekanan pressure
charge nitrogen (psi).
Pf : tekanan final
operasi botol accumulator (psi).
Ps : tekanan sistem
accumulator (psi).
Vb : kapasitas aktual
botol accumulator (galon).
Dari data-data
yang doperoleh dari perlatan acclumulator dimana :
Ppc = 1000 psi
Pf = 1100 psi
Ps = 3000 psi
Vb = 11
Maka dapat diketahui :
Vd =
–
) 11


= 6.33 galon/botol
Karena jumlah tabung yang terdapat pada accumulator tersebut
sebanyak 20 botol maka banyaknya jumlah total volume nitrogen yang bisa
dikirimi untuk menggerakkan fungsi hidrolika pada rangkaian BOP sebesar ;
Vd =
6.633 galon/botol c 20 otol
=
126.6 galon
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dar
perhitungan dan pembahasan pada bab sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan
sebagai berikut :
1. Susunan BOP stack yang ada pada pemboran ini
yaitu pada setiap treyek meliputi treyek pertama yang menggunakan susunan BOP
5M – 29
’’ – SA, pada treyek kedua menggunakan susunan BOP 2M - 21
’’ – SRRSAG dan pada treyek ketiga menggunakan susunan BOP 5M – 13
5/8’’ – (MV) SRRSAG sudah selesai dengan standar, kebutuhan dan API 53.


2. Hasil evaluasi yang dilakukam selama pemboran
yang sedang berlangsung tiodak terjadi dan ditemukan kendala pada BOP, baik itu
kendala pada saat pemasangan dan penjelelasan dan penggelasan, pada saat disain
BOP dan kebocoran pada BOP yang di gunkaan.
3. Pengujian BOP dan semua bagian-bagian BOP
sangat diperlukan guna untuk mengetahui apakan ada permasalahan dan kebocoran yang terdapat pada BOP yang
akan di gunakan. Agar BOP yang akan digunakan bisa selalu dalam kondisi yang
baik dan siap pakai tanpa ada kendala pada BOP tersebut.
4. Pada perencanaan BOP stack, ada beberapa hal
yang harus diperhatikan sebelum menggunakan ataupun memasang BOP, agar BOP
bekerja dengan baik yang perlu dpertimbangkan antara lain adalah kekauatan
penahan tekanan, pemilihan dan pengaturan komponen, variasi penempatan, sistem
pembelok dan ketinggian BOP stack.
5.2 Saran
1.
walaupun
tidak ditemukan permaslahan yang terjadi pada BOP yang gdigunakan dan sudah sesuai dengan standar yang
telah di tetapkan adabaiknya pengawasan pada BOP dilakukan secara terus menerus
jangan sampai jika dtemukan baru dilakukan perbaikan lagi.
2.
Sebaiknya
perawatan pada BOP harus sering dilakukan agar BOP selalu dalam keadaan baik.
Perawatan bisa dilakukanm dengan cara pelumasan bagian-bagian BOP. Pelumasan
dan perawatan BOP dilakukan setelah BOP tersebut mengalami kerusakan selama
dengan begitu bisa dilihat apakah BOP terbut bisa digunakan lagi atau diganti.
3.
Pada
saat pemasangan BOP sebaiknya harus diperksa terlebuh dahulu semua perlengkapan
untuk melihat apakah BOP terpasang dengan baik. Pemeriksaan bertujuan untuk
melihat apakah BOP dalam kondisi yang baik, jika BOP bermasalah maka akan
mengganggu proses pemboran dan bisa mengganggu jem kerja.
DAFTAR
PUSTAKA
Rubiandini. Rudi R.S 1987, Jurnal Teknologi
minyak dan gas bumui jakarta No 2
Rabia, H, 1985, oil well drilling engineering :
principles dan practice, univercity newcastleof nupon tyne, graham dan trotman,
scotland
Pertamina-pdsi.com/onshoreRig.aspg
Petro-engine.blogsport.com
http://pertamina-pdsi.com/sejarah.aspa
.